Menghangatkan Diri di Warung Burjo Pakde Narto KM. 0.5

Sepulang lembur kerja, sekira pukul 10.30 malam, balikpapan sedang basah habis diguyur hujan yang cukup deras dan menyisakan beberapa rintik hujan penghantar dingin yang sempurna malam ini. Sial, baru tersadar kalau jaket saya tertinggal di ruang kerja saya di lantai empat ketika sudah berada di parkiran. Hmm, kembali mengambil jaket bukanlah ide yang baik di waktu menjelang tengah malam ini. Ah, faktor umur memang tidak bisa dibohongi.


Gunung sari - kilometer 5 bukanlah jarak yang dekat, ditambah lagi cuaca yang sedang dingin. Dalam hati membayangkan burjo hangat-hangat di tengah kekuyupan dingin ini, dan.... Ah, sangat sempurna ketika melewati warung pakde narto di kilometer 0,5 belum tutup di pukul 11 malam. \o/

Lokasi warung pakde narto ini ada di kilometer 0.5, sekitar seberang pemakaman umum muara rapak, antara straat satu dan rajawali photo. 
Sembari mengusapkan dua telapak tangan saya yang katanya mitos penghilang dingin, saya memasuki warung ini. Hmm, dan malam ini tampak cukup ramai. Tempatnya cukup cozy, ada beberapa meja untuk lesehan, juga ada beberapa meja dan kursi duduk.

Saya memilih meja lesehan dengan bubur kacang ijo panas dan roti bakar keju yang menjadi pesanan saya. Sangking panasnya, untuk memotret si burjo, saya mesti menunggu sesaat supaya agak dingin. Bukan apa-apa, lensanya selalu beruap. Haisssssh! Keinginan menyeruputnya panas-panas pun mesti tertunda. 


Baik, roti bakar keju menjadi sasaran amukan saya. Rasanya cukup enak, apalagi dimakan dalam keadaan hangat, isssshh. Mereka menggunakan roti panjang seperti roti untuk hot dog, hanya dalam presentasinya si roti terlihat gepeng (bahasa orang balikpapan yang bermakna sama dengan penyet), mungkin karena terlalu dihimpit dengan pembakaran. Biarpun gepeng, tetep enak sih. Halah saya mah apa yang nggak enak. :))



Yak, wangi jahe dari burjo ini sudah memanggil-manggil saya untuk segera disantap. Dan hmm, saya menemukan rasa santan, gula merah, pandan, dan jahe yang balance di kuahnya. Enak! Hangatnya mengusir dingin yang sedari tadi kerap menyelimuti saya.  Nom nom nom. :3

Di setiap meja, ada beberapa gelas air mineral, ini ditujukan untuk mengilangkan rasa karau di mulut sehabis makan burjo. Duh, bahasa apalagi ini karau. Pokoknya semacam rasa yang sama seperti rasa kalat yang didapat sehabis makan pisang yang masih mangkel (menjelang mateng). #ribet :))

Oke, sebenarnya sekoteng juga cukup famous di sini, hanya saja dari dulu saya belum menemukan nikmatnya makan sekoteng. Ahaks, poor me. Seporsi burjo dan roti bakar ini dihargai masing-masing 6k/porsi, sedangkan air mineralnya 1k/gelas. Cukup murah. Overall, warung pakde narto ini cukup cozy lah ya untuk tempat makan burjo sambil ngobrol-ngobrol dengan rekan sejawat di tengah-tengah kepungan tempat nongkrong franchise baru di balikpapan. Viva le burjo! \o/

2 comments:

  1. ni warungnya buka dari jam berapa ampe jam berapa min?

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasa sore-sore mau maghrib udah buka, kak. sampai jam 12-1 malem. hehe.

      Hapus

 
  • Dapur Balikpapan © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes