Tidak ada plang nama penanda Soto Banjar Nyaman Blablabla di depan rumah makan ini. Tapi, deretan mobil-mobil parkir silih berganti ketika pagi di area parkir yang sebenarnya gak memungkinkan banyak mobil untuk parkir. Ini pertanda kalau memang Soto Banjar di sini cukup enak. Kebetulan, saya datang kemari ketika menjelang siang, jadi sudah tak begitu ramai. Lokasinya sekitar 100 meter dari tugu adipura, kiri jalan, setelah penjual helm, pas di sebelah (sebelum) Masjid Al-Huda.
Beberapa orang menyebutnya Soto Banjar Akbar, saya lebih nyaman menyebutnya Soto Banjar Gunung Kawi. Entah, saya tidak begitu tertarik dengan asal-usulnya, atau kenapa orang menyebutnya Akbar.
Saya sudah lama menggemari Soto Banjar di sini, begitu juga Ayah saya, seorang Banjarnese yang rada cerewet soal makanan, terlebih makanan Banjar. Setiap kepengin Nasi Sop, Ayah saya selalu kemari. Hanya saja di sini masih belum terbiasa menerima pesanan dengan penyebutan Nasi Sop, atau Soto, dan ini yang selalu dipermasalahkan Ayah.
Ketika kita memesan "Ibu, Soto satu..", seharusnya mereka tidak perlu bertanya "Soto-nya pakai lontong apa nasi?". Inilah yang sering dikritisi Ayah. Padahal menurut budaya Banjar, seharusnya Soto memang menggunakan ketupat, atau katakan lontong untuk di kota-kota urban lain. Sedangkan untuk yang pakai nasi, ini namanya Nasi Sop.
Kebiasaan bertanya "Soto-nya pakai lontong apa nasi?" ini dianggap Ayah 'merusak' budaya Banjar. Ayah sering membandingkan dengan Coto Makassar. "Ada gak penjual Coto Makassar yang nanya pake ketupat apa pake nasi?". Duh, makan bareng Ayah emang selalu ribet begini. Ahahaha.. Tapi apapun itu, Soto Banjar di sini tetap jadi favorit saya! (--,)/
Walaupun penataan isian Soto Banjar-nya terkesan ngasal (gak beraturan), tapi ini rasanya gak asal-asalan. Enak, kak. Enak! Kuahnya lembut surga-surga gitu. Gak begitu nyegrak. Soft. Bagian yang paling saya suka adalah ketika nyeruput kuahnya dengan remah-remah perkedel yang sudah saya penyet-penyet. Gusti Alloh.. Ini enak banget! Berasa udah di surga aja gitu. :') *lemes lunglai keenakan*
Soto Banjar di sini menggunakan Telur Bebek dan Ayam Kampung, jadi rasanya dijamin paten. Tapi sayang, mereka masih menggunakan lontong untuk menggantikan ketupat yang harusnya berada di setiap mangkuk Soto Banjar. Sebenarnya, ini pelanggaran budaya juga. Gimana kalau ketupat Coto Makassar diganti lontong? Tentunya agak aneh, walaupun rasanya gak begitu berbeda.
Memang bagi sebagian penjual Soto Banjar, membuat lontong sangat jauh lebih mudah daripada ketupat, apalagi lontong berbungkus plastik yang tidak lah terlalu sehat itu. Ya, zat kimia pada plastik yang direbus dalam suhu mendidih pastilah memuai dan mempengaruhi apapun yang dibungkusnya. Tapi di sini, saya kurang tahu mereka memakai lontong plastik atau lontong daun. Ah, semoga saja lontong daun.
Overall, saya gak begitu terganggu dengan ketidakhadiran ketupat. Soto Banjar di sini tetap menjadi favorit saya, dan selalu saya rekomendasikan kalau ada yang bertanya di mana Soto Banjar yang enak. Fyi, berdasarkan info dari ibu penjualnya, rumah makan ini sudah berdiri dari tahun 80-an! Well, kalau udah selama itu, berarti memang rasanya udah paten. Karena kalau tidak, gak mungkin mereka bisa bertahan dalam kurun waktu selama ini.
Bukan begitu, bukan?
Soto Banjar Gunung Kawi
Jl. P. Antasari No. 38
Sebelah Masjid Al-Huda,
Gunung Kawi,
Balikpapan
Open 7 am - habis (sekitar waktu dzuhur)
Price
Soto Banjar - IDR 18,000
Nasi Sop - IDR 18,000
Es Teh - 4,000































